Welcome to JBlogz-smala

Selamat di JBlogz-smala., silahkan main-main sepuasnya.., ya.. jika ada kritik dan saran silahkan di coment or tulis aja di kotak SMS...

Para Admin JBlog'z

Hi.., salam kenal.... ^_^

Logo SMA Negeri 5 Kediri

Logo SMA Negeri 5 Kediri tercinta.....

Lambang baru

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

majalah EKSPRESI EDISI KE-7

Ini nih.., contoh cover dari majalah Ekspresi....

Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juni 2012

SENSASI MURID BARU


Karya Dita Puspitasari
Minggu pagi adalah hari yang paling disukain sama Tama, remaja laki-laki hampir dewasa ini ngabisin hari minggu dengan main musik. Kenapa dia ambil hari Minggu? Karena hanya hari Minggu lah jadwal dia yang kosong. Maklum, Tama anak kelas XII di SMA favorit di daerah Bogor.

Keseharian Tama di sekolah biasa aja, sama halnya seperti laki-laki yang lain. Hanya saja, Tama tipe laki-laki yang ga tertarik sama perempuan. Dia jutek sama perempuan, padahal kalo di bilang-bilang sih tampangnya imut juga. Tama pernah bilang ke temen-temennya bahwa “Kalo gue pacaran, itulah gadis yang gue pilih buat pendamping hidup gue seumur hidup. Sorry ya gue ga suka main-main sama cewe”. Itulah kata-kata mutiara yang Tama punya.
***
 Suatu hari di kelas Tama, ada murid baru perempuan bernama Tara. Tara itu tipe perempuan yang cukup care sama penampilannya. Pertama kali Tama melihat Tara, Tara memakai baju seragam seperti anak sekolah lainnya. Tapi, Tara memakai pernak-pernik yang menurut Tama terlihat berlebihan.

Bel istirahat berbunyi, entah setan apa yang masuk ke dalam pikiran Tama. Tanpa basa-basi lagi Tama menghampiri murid baru itu.
“Lo mau sekolah neng?”, Tanya Tama, prilakunya tersebut langsung menangkap perhatian temen-temen sekelasnya, khususnya bagi para cewe.
“Iya gue mau sekolah, ga usah ngajak ribut duluan deh! Lo siapa sih?”, bentak Tara.
“Ohhh, maaf. Gue salah”, ucap Tama ketus.
“Heyyyy, denger gue ya. Besok gue bakal ngerubah drastis penampilan gue. Liat aja!”
Karena kesal Tara langsung melepas pernak-pernik yang ia pakai di tangannya maupun yang menempel pada rambut panjangnya. Hari itu Tara memang apes banget, secara lah Tara murid baru di sekolah itu. Masa baru pertama kali masuk udah buat ribut? Ya lupakan saja soal itu. Masalanya Tara harus merubah penampilannya secara drastis besok. Kalo engga, wahhh siap-siap aja nerima malu dari si angry itu.

Begitu bel pulang sekolah berbunyi Tara langsung pergi berlari ke rumahnya, jarak rumahnya sama sekolahnya memang dekat. Cukup berjalan lima menit sudah sampai. Tiba di rumah, Tara membuang semua pernak-pernik keperempuanan yang dia punya. Dan dia kembali seperti dulu, yaitu Tara yang tomboy. Yaaa itulah penampilannya waktu dulu. Rambut emang boleh panjang, tapi penampilannya itu yang cowo banget. Baju kaos oblong, bawahan jeans, memakai sepatu kets warna coklat, dan menggendong tas ransel warna hitam yang isinya baju basket. Yaa, itulah Tara yang sebenarnya. Tara lebih cocok dan nyaman dengan penampilan seperti itu. Sebenarnya yang menyuruh Tara penampilan seperti cewe banget itu mamahnya. Tapi Tara ga nyaman, dan ditambah perkataan si angry itu yang membuat Tara semakin kesal dan panas.
***

Tiba di sekolah, sesampainya di kelas mata semua anak-anak tersorot sama penampilan baru Tara. Rambut panjang diikat satu, sepatu warna coklat - sejenis sepatu olah raga gitu, tas warna hitam, dan jaket coklat tanpa corak yang mencolok. Tapi sayangnya, Tama ga masuk sekolah. Itu juga kata temen sebangkunya Tama. Inilah lanjutan nasib buruk Tara. Sebenarnya, Tara ingin marah. Tapi malu dong, muka mau ditaro dimana nanti?

Beberapa lama kemudian, datanglah Tama. Dengan ekspresi wajah tertawa geli melihat penampilan muka kusut Tara.
“Gue tuh udah datang dari tadi pagi Tarrrr, makanya teliti dong. Gue tau rumah lo sekarang. hahaha”, sungguh aneh sikap Tama sekarang. Tama yang biasanya jutek abis ke cewe. Sekarang dengan gampangnya member sedikit perhatian dia kepada teman barunya itu.
“Oke. Kita belum kenalan, gue Tama dan lo Tara”
“Yaa, itu benar”
Kringg kring kringgg, akhirnya bel masuk bunyi juga. Itulah yang selama ini Tara nanti-nanti. Untuk menghindar dari Tama angry.
“Tam, lo naksir ya sama murid baru itu?”, Tanya Ikbal, teman sebangku Tama.
“Hhhhh, urusan nanti itu. Gampang lahhh. Tunggu aja tanggal mainnya boy”
***

Berbulan-bulan terus seperti itu, Tama ga nyangka ternyata perempuan yang udah dia malu-maluin di depan kelas, bisa jadi perempuan yang mungkin bisa nemenin dia seumur hidup. Karena Tama memang suka kepada Tara. Hari H nya pun datang. Kesempatan banget buat Tama, Tara lagi main basket sendirian di lapangan, kebetulan jam pelajaran emang udah bubar. Dan, Tama memang sengaja bawa gitar ke sekolah. Tunggu apa lagi? uuntuk pertamakalinya Tama akan menyatakan perasaannya kepada perempuan yang telah dia percaya dengan sebuah alunan musik. Karir Tama pun dimulai pada hari ini.

Suara gitar bergema dan bersatu padu dengan suara angin. Suara merdu Tama sempat membuat hari Tara kagum. Tapi Tara berfikir Tama emang lagi nyanyi-nyanyi sendiri. Dan pada akhirnya Tara teriak ”Tam, lo kenapa sih? Kalo mau nyanyi di kelas aja deh”
“Lo ga ngerti apa maksud gue Tar?”, Tanya Tama heran.
“Emang maksud kamu apa?”. Mendengar pertanyaan itu, Tama histeris berteriak, ya Tuhaannnn ini perempuan kenapa sih? Kira-kira dia tau ga yang namanya suka itu? Tama seakan menjerit didalm hari dan memgatakan itu semua.
“Taraaaaa, jangan sok ga ngerti deh. Gue tuh suka sama lo. Lo mau hidup bareng gue?”
“Apa? Sorry Tam, gue ga pernah pacaran. Waktu pertama kali gue masuk sekolah ini gue dadan cewe abis kan? Nah itu tuh biar gue punya pacar. Itu juga disuruh mamah gue”, jawab Tara. Mendengar penjelasan itu Tama ga ngerti apa maksud dari semua ini.
“Jadi gimana?”, Tanya Tama.
“Gatau deh, mungkin ga kali yaaaa. Eh, tapi tar dulu deh. Gue mau piker-pikir dulu. Dadah Tama gue pulang dulu yaa”. Langkah cepat Tara menandakan bahwa Tara gugup. Tama yakin, sebenarnya Tara tak mau pulang dulu. Tapi karena kejadian itu Tara jadi pulang. Kebetulan banget, anduknya Tara ketinggalan di lapangan basket. Ya dari pada diambil orang, lebih baik Tama anterin ke rumahnya Tara.
“Taraaaaaaaaaaaaaaa, ini gue Tama mau ngembaliin anduk lo yang ketinggalan”. Tara pun keluar dari rumahnya, dan segera mengambil anduk itu. “Makasih, gue mau jadi pacar lo Tam”, setelah mengucapkan kalimat itu Tara segera masuk ke dalam rumah, dan mengunci pintu rumahnya. Dipikiran Tama semuanya buyar, Tama tidak percaya itu.
***

Sebulan berlalu, Tara merasa Tama adalah cowo yang playboy. Padahal kata temen sebangkunya, Tama itu orang yang serius, tapi Tara tetep ngerasa Tama itu terlalu deket sama cewe. Ya mungkin karena Tara terlalu cemburuan. Tapi pada waktu tes speaking bahasa inggris, Tama menceritakan pengalaman ia bersama teman perempuannya. Saat Tama menceritakan pengalamannya itu dan menyebutkan nama cewe yang terlibat, semua anak-anak di kelas seretak teriak “Adeuhhhhhhhhhhhh”. Gila dong gimana perasaannya Tara saat itu, dia langsung malu abis sekaligus cemburu. Kenapa temen-temen sekelasnya tega ngomong kaya gitu? Sementara ada Tara disanan yang lagi nyimak Tama speaking. Dimu;ai dari kejadian itulah Tara sering melamun dan pasang wajah jutek ke Tama. Dan Tama pun ikut-ikutan marah.

Tama ga abis pikir bahwa Tara bisa tiba-tiba ngejutekin tanpa ngasih alas an yang jelas. Tama ngerasa lebih nyaman gaul sama anak perempuan lain ketimbang pacarnya sendiri. Saat ini dia telah mengetahui bahwa kehadiran sosok perempuan di mata laki-laki itu sangat lah berharga. Tama mulai emosi kepada Tara. Tanpa berfikir dua kali pranggggg kaca figura organigram kelas berhasil dipecahkannya dengan cara di tonjok. Tangannya berdarah cukup banyak, Tara melihat semua kejadian itu. Namun ia labih memilih dia, dari pada mendekati Tama, karena ia takut. Tara sadar semua ini salahnya, karena Tara tidak memberi tahu Tama tentang semua perasaan yang ia rasakan, tapi itu semua demi Tama. Tara ga mau Tama jadi terbatas lagi jika gaul sama perempuan. Tara rela jika saat itu dia menjadi kaca yang dipukul Tama.

Masih di kelas Tama dan Tara, Tama menyendiri di tangga depan koridor. Sedangkan Tara mengobrol dengan teman-teman sekelasnya. “Tarrrr, cepet keluar. Tanya Tama kenapa” ucap Fadli kepada Tra sambil menggeret Tara ketempat Tama menyendiri. Tara udah berdiri tepat di depan Tama dan memandang mata Tama, tapi Tama sama sekali tidak memberikan respon akan tatapan Tara. “Ngomongg tar cepet. Kalo engga Fadli bakal ngajatuhin diri”sambil berdiri di pembatas koridor bersiap untuk loncat kebawah. “Cepet Tarrr. Oke Fadli bakal loncat. Heh kamu! Rekamin gue ya. Satuuuu, duaaaaa tiiiiig”
“Iii iya iya gue ngomong”jawab Tara sambil teriak.
“Lo kenapa Tam?”satu kali Tara bertanya
“Tam?”dua kali Tara bertanya
“Tam? Kenapa sih?”dan sudah tiga kali Tara bertanya
Dan “Gue nanya, perlu gue ngelakuin gitu lagi?”tanya Tama ketus
“Ga, ke gua aja tonjoknya Tam, biar puas”jawab Tara
Seusai Tara melontarkan kalimat itu kepada Tama, Tama tidak lagi menjawab pertanyaan Tara. Dan Tara pun pergi ke kelas. Disaat Tara berjalan ke kelas, tangan Tara digenggam oleh seseorang, Tara gatau itu siapa. Saat dia balik ke belakang, dilihatnya adalah Tama dengan muka dingin. Ternyata tangan yang meenggenggam tangan Tara adalah Tama.
“Gue janji ga akan ngelakuin itu lagi Tar” kata Tama dengan suara yang lembut, beda seperti tadi.

Tamat.
PROFIL PENULIS
Nama : Dita Puspitasari
Alamat rumah : Perum Sarijadi Blok 13 No 13 RW 08 RT 02 Kecamatan Sukasari, 40151 Bandung
TTL : Bandung, 30 Januari 1997
Sekolah : SMPN 12 Bandung
Kelas : 9c
Email : dita.puspitasari_12@yahoo.com (fb dan y!m)
ditaeyang00@yahoo.co.id

SENYUMAN ITU MAKNA


Oleh Dita Puspitasari
 
Hari Sabtu yang cerah, tepatnya hari ulang tahun salah seorang sahabat Kaori, yaitu Hijiri. Hari itu Kaori berniat untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Hijiri. Dan, Kaori pun mengucapkan selamat ulang tahun itu melalui via sms.

Berlama-lama Kaori menunggu balasan dari Hijijri untuknya, karena ia tidak sabar akhirnya ia pun menelepon Hijiri. Tuttt tuttt tuttt beberapa kali suara itu terdengan di telinga Kaori, setelah beberapa lama kemudian “Hallo”, terdengar suara lembut dari seorang wanita yang mengangkat telepon itu.
“Bisa bicara dengan Hijiri? Ini saya Kaori”, ucap Kaori
“Oh Kaori. Tunggu sebentar ya“

Ternyata itu adalah suara dari ibunda Hijiri,
“Kaori maaf, Hijirinya tidak mau bicara. Katanya dia malu, hijiri sedang sakit”.
“Oh gitu ya tante, makasih deh. Semoga Hijiri cepat sembuh ya”,
“Iya Kaori, terimakasih”.
Hanya keheningan di ruang tengah rumahnya yang bisa dirasakan Kaori saat mendengar kabar itu. Memang benar Kaori dan Hijiri sudah berteman lama sejak mereka duduk dibangku Sekolah Dasar. Tiba-tiba handphone Kaori pun bergetar tanda sms masuk. Yang Kaori harapkan hanyalah balasan sms dari Hijiri, namun itu adalah sebuah sms dari Midori, yaitu teman baik Kaori. Ka, Azure kecelakaan motor . Kakinya patah, sekarang di rawat di rumah sakit.
 
Begitu Kaori membaca sms itu, dia tidak tahu harus berbuat apa. Sungguh tragis apa yang dia alami pada hari itu. Azure adalah sahabat karib Kaori, mungkin Kaori telah menganggap Azure sebagai kakak sendiri, padahal umurnya pun lebih muda Azure. Meskipun hanya berbeda beberapa bulan saja Kaori tetap menganggap Azure adalah kakaknya. Azure selalu menjaga Kaori, entah apa yang dia maksud. Tapi disetiap kondisi apapun Azure selalu memperhatikan Kaori. Sewaktu masih duduk di Sekolah Dasar mereka berdua memang sekelas, ditempat les pun mereka bersama, orang tua mereka pun kenal akrab. Yaa jadi mereka berdua memang seperti saudara saja.

Setelah mendengar kabar itu Kaori langsung memberi tahu ibunya dengan tergesa-gesa. Akhirnya, Kaori membuat rencana dengan teman-temannya untuk menjenguk Azure pada keesokan harinya. Kaori sangat senang karena akan menjenguk salah satu sahabatnya itu. Namun, saat pikirannya kosong Kaori bingung, saat dia telah melihat kondisi Azure apa yang akan dia sampaikan kepada Azure, apakah dia harus memarahi Azure kah agar tidak mengebdarai motor dengan ceroboh? Ataukah ia harus berdiam diri? Itulah yang membuat Kaori bimbang. Entah perasaan apa yang sedang ia rasakan.

Karena hatinya memang lagi ga bisa tenang, Kaori pun mencoba mengirimkan sms kepada Azure yang sangat singkat, Zu,

Dua suku kata yang memberikan harapan kepada Kaori bahwa Azure telah siuman. Namun, sudah lama ia menatap handphone-nya itu tetapi tidak ada satu pesan pun yang masuk. Dengan perasaan tidak begitu yakin dan hanya bisa berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja, Kaori pun pergi untuk tidur.
***

Esok pun tiba, segera Kaori bersiap untuk menjenguk Azure. Dengan semangat sambil bingung berfikir bagaimana keadaan Azure sekarang Kaori bersiap. Lalu Kaori pergi ke tempat yang biasa ia datangi ketika berkumpul dengan teman-teman Sekolah Dasarnya. Taman kompleks yang penuh bunga, dan banyak juga pedangang disana. Tempat yang memang sederhana, namun begitu banyak meninggalkan kesan yang teramat dalam. Tempat dimana semua kebahagiaan dan semua kesedisan dapat berpadu menjadi satu. Akhirnya Kaori sampai di tempat itu. Disana, teman-temannya sudah berkumpul.
“Ka, katanya Azure udah pulang ke rumahnya”, ucap Mio. Begitu Kaori mendengar itu, sungguh kata syukur yang dia bisa ucapkan. Dan dia pun telah bisa mengambil kesimpulan bahwa keadaan Azure sudah membaik. Tanpa banyak bincang-bincang lagi Kaori dan teman-temannya pergi ke rumah Azure.

Rumah sederhana yang harmonis dan terkesan seperti rumah di dongeng-dongeng, dengan halaman yang tidak terlalu luas tapi banyak ditanami pohin dan berbagai macam bunga, itulah yang menjadi seseorang nyaman berada di rumah Azure. Ruangan depan yang luas, berpadu dengan sebuah TV, foto-foto yang menggatung di tembok maupun yang berdiri di meja, dan sebuah kasur yang tergeletak di lantai tempat Azure berbaring dengan kondisi yang menurut Kaori cukup sadis. Di ruangan itu, Kaori dan teman-temannya berkumpul bersama Azure yang masih terbaring lemas. Namun, ada satu sisi yang membuat Kaori terkesan kepada sahabatnya itu, meskipun Azure mengalami kondisi seperti itu tetapi Azure masih bisa tertawa seperti tidak merasakan sakit akan patah tulang yang ia derita. Dia orang yang tegar. Meskipun kaki kiri nya dibalut oleh perban Azure tetap seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa. Tidak ada keluhan yang ia sampaikan kepada Kaori. Kaori sangat terkesan akan hal itu. Saat pertama kali Kaori datang menghampiri Azure, dengan memaksa Azure langsung memeluk Kaori dengan posisi duduk.
“Gue kangen sama lo Ka”, bisik Azure
“Iyaaa gue tau. Zu, sakit ga sih?” ucap Kaori penasaran, sekaligus mengalihkan pembicaraan,
“Engga tuh, biasa aja. Kan ada kamu, hehehe”
“Ngegombal aja lu, pentingin tuh kondisi lo dulu”
“So pahlawan banget sih pake nasehati gua segala”
“Yaaaaaa, gue mau jadi pahlawan lo selama elo sakit. Hahaha”
“Okelaaaaa gapapa, toh gue ga rugi ko”
“Ihhhhh salah ngomong lagi kan. Yaudah cepet sembuh lu, biar gue bisa pensiun”
“Aminn, udah itu gue aja ya yang jadi pahlawan elo?”
“Hahahahaha kacauu. Yaa boleh deh”

Alangkah terharunya Kaori melihat wajah Azure yang terlihat tanpa beban itu. Kaori berharap, dirinya akan selalu bisa menyenangkan hati Azure.
Setelah beberapa lama berbincang di rumah Azure, Kaori dan teman-temannya pulang. Berat hati Kaori pergi melangkah dari rumah itu. Senyuman dari Azure untuknya adalah sebuah jawaban untuk Kaori bahwa Azure akan bai-baik saja.

Salam pamit teman-temannya kepada ibunda Azure merupakan tanda teman-temannya sudah pergi pulang khususnya Kaori sudah tidak ada disini. “Semoga gue cepet sembuh. Gue pingin ngajak lo ke sebuah tempat untuk ngebales apa yang udah lo lakuin ke gue selama ini, Kaori” bisik Azure dengan nada rendah, anggaplah itu sebuah janjinya kepada Kaori.
***

Kaoriiiiiiiii? Lo dimana? Mana ya pahlawan gue? Sebuah pesan singkat yang diterima Kaori dari Azure pada keesokan harinya. Hanya senyum geli yang terpancar pada muka Kaori saat membaca pesan itu. Apaaaaaaa? Dasar manja, ga usah so jadi anak kecil deh! Balas Kaori untuk pesan singkat yang dikirimkan Azure padanya. Seharian Kaori dan Azure balas-membalas pesan singkat. Dan pada malam hari itu semua ditutup atas permintaan Kaori karena matanya sudah mulai mengantuk. Zuuuu, ngantuk nihhhh. Udah dongggg, gue capeeee nihhhh, cape perut sama cape tangannnn pinta Kaori kepada Azure. Yaudah, kamu istirahat sana besok sekolah kan? Gua mah kaga sihh, hehe. Dadah Kaka mimpi in gua yaaa, hehe. Begitu membaca pesan singkat dari Azure itu, Kaori tersenyum kecil dan tertidur.

Bel istirahat berbunyi, lima pesan singkat masuk di handphone Kaori dan semuanya dari Azure dan isinya pun sama menanyakan tentang keadaan Kaori. Apaaaa sih Zu? Gua baru istirahat. Gua baik-baik aja Zu. Beberapa lama kemudian setelah Kaori mengirimkan pesan itu kepada Azure, Kaori menerima balasan. Ia langsung ternganga begitu membaca pesan dari Azure.

Oh maaf deh, tapi tau ga? Sama dokter kaki gua dibungkus pake pipa dongg! Wah ga pengalaman banget dokternya, emang kaki gue air apa? Itulah balasan dari Azure kepada Kaori, kata-kata konyol Azure yang memang khas pumya Azure membuat Kaori tertawa sendiri. Lo yang bodo itu mah, itu bukan pipa. Itu tuh dipasang ke kaki lo biar tulangnya ga ngegeser-geser lagi Zu. Yang buat air mah bukan pipa tapi paralon. Hahahaha, anak SMA masih kaya gini. Begitu bel masuk berbunyi mereka berdua berhenti berkomunikasi.

Akhinya Kaori tiba di rumah. Dan terkejut mendapat pesan dari Azure Kakaaaa, udah punya seseorang belummm? Apa maksud Azure mengirimkan sebuah pesan seperti itu? Kaori tidak membalas pesan yang dikirimkan Azure kepadanya. Tiba-tiba datang sebuah pesan baru Kakaaa, gue sayang sama lo. Gue mau jadi pacar elo. Lo mau?

Degggg jantung Kaori berdetak keras tanda ia kaget. Ia tak percaya bahwa Azure akan mengirimkan pesan seperti itu. Sesungguhnya Kaori memiliki rasa khusus kepada Azure, ia ingin bersama. Tapi Kaori berfikir, apakah ia sanggup jika berbeda sekolah. Tapi, jika itu memang cinta mereka pasti bisa karena cinta yang membuat semuanya begitu. Akhirnya mereka berdua menjalin hubungan.
***

Dua bulan berlalu, hubungan mereka tidak seperti biasanya. Terasa ada yang mengganjal dibenak Azure tanpa mengerti dan paham apa yang sebenarnya terjadi. Begitu pun Kaori, ia merasakan jenuh. Ia tak tau harus berbuat apa, Kaori tidak tahan kepada sikap Azure yang posesif. Ada niat untuk mengakhiri hubungan itu, namun Kaori tidak tega. Dan ia hanya memilih menunggu Azure saja yang mengakhiri hubungan ini terlebih dahulu.

Sebenarnya mereka berpacaran tanpa ada orang yang tahu, entah mengapa Azure yang meminta itu kepada Kaori saat pertama jadian. Tapi lama kelamaan, teman dekat Kaori yaitu Mio mengetahui hal tersebut. Tapi sayangnya setelah teman-teman Kaori dan Azure mengetahui tentang hubungan spesial yang dimiliki Kaori dan Azure, mereka berdua lost contact. Dan tibalah saatnya, Azure mengakhiri hubungan tersebut dengan alasan dia lebih nyaman menjadi sahabat Kaori. Ya memang Kaori menunggu akan hal itu. Tapi, mengapa saat Kaori bisa memahami dan lebih menyayangi Azure, Azure malah pergi? Dan akhirnya mereka berdua berstatus seperti dulu lagi.

Setelah kejadian itu mereka berdua tidak saling berkomunikasi, malah sepertinya Azure membenci Kaori. Sampai saatnya Kaori mengirimkan pesan singkat kepada Azure, Zuuu, kamu kenapa sihh? Gue pingin kaya dulu lagi, apa salah gue? Namun pesan itu tidak dibalas oleh Azure.
***

Sudah setahun lamanya mereka seperti itu, seperti orang yang belum saling kenal. Karena Kaori tidak tahan akan kondisi itu akhirnya dia pergi ke rumah Azure untuk memiinta penjelasan kepadanya. Namun ketika Kaori tiba di depan rumah Azure yang dia lihat hanyalah rumah bertingkat dua dengan nuansa sepi, bercat ungu muda, dan sepertinya baru saja dibangun. Karena Kaori sudah negative thinking duluan akhirnya ia menanyakan kepenasaranannya itu kepada warga yang ada disekitar kompleks rumah itu. Syukurnya Kaori bertemu dengan teman SDnya yaitu Yuki. Setelah lama berbincang dengan Yuki akhirnya Kaori bertanya.
“Yu, rumah Azure ko gini sih?” Tanya Kaori.
“Oh itu, soalnya Azure pindah rumah. Tapi gue kurang tau dia pindah kemana Ka”
“Gitu yaaa, ko dia ga bilang-bilang ke gue sih?”
“Yaaa itu mah gue juga gatau Ka, kenapa sih? Ko lo pengen banget ketemu sama dia? Padahal waktu SD kalian paling jago kalo berantem”
“Ahhh, itu ma gampang tar aja kalo gue udah damai sama dia, yauda deh makasih infonya. Dadahhhh”, sambil berlari Kaori berkata seperti itu.
“Ihhh tu anak ga rubah-rubah”, kata Yuki dengan ketus.
***

Setelah apa yang Kaori ketahui, dia semakin bingung dengan kedaan yang sekarang. Lagi bingung-bingungnya Kaori dengan keadaan, ibunya meminta Kaori menemani pergi ke sebuah supermarket.

Sesampainya disana, Kaori terkejut dengan perkataan ibunya,
“Kaka, itu temen mu yang tadi barusan lewat. Kalo ibu ga lupa namanya Azure kan?”
“Manaaaa?”, sambil melihat kearah kiri dan kanan, dan di arah kanan memang benar ada Azure sedang memilih-milih makanan. Namun saat Kaori ingin mengejarnya, Azure malah pergi menjauh. Tanpa basa basi lagi Kaori langsung mengejar Azure, ya pastinya bilang dulu ke ibunya.
“Azureeeeeeeee!“, teriakan Kaori tanpa rasa malu itu membuat laki-laki yang dia maksud mengalihkan perhatiannya kepada Kaori. Namun saat Azure tau yang memanggil adalah Kaori dengan suara streo khas Kaori, Azure langsung pergi. Hal itu membuat Kaori makin bertanya-tanya ada apa sebenarnya, namun Kaori tidak mengejar Azure lagi, dia lebih memilih mencari ibunya.
***

Sesampainya di rumah, Kaori masih terpikir hal tersebut. Namun, sungguh dia sangat bahagia bisa melihat Azure secara langsung. Banyak perubahan yang terjadi kepada Azure, dia lebih tinggi dan pipinya sedikit berisi, dan tetap saja kakinya masih dibalut dengan perban atau semacamnya yang berwarna coklat. Dengan atasan jaket warna abu-abu yang lumayan kebesaran, dan bawahan blue jeans pendek. Dengan penampilan seperti itu Azure sangat terlihat dewasa. Tapi, Kaori bingung. Kenapa kaki Azure masih dibalut perban? Padahal kecelakaan itu udah lebih dari setaun yang lalu.

Malam harinya Kaori memerima pesan singkat dari Mio yang mengatakan bahwa Azure mengalami cedera yang cukup fatal karena terkilir saat bermain basket pada luka bekas kecelakaan yang dia alami pada setahun yang lalu dan Azure dirawat di rumah sakit. Mendengar berita itu, Kaori jadi bingung sebenarnya apa yang sedang Azure lakukan tadi siang? Kaori hanya berharap semuanya akan baik-baik saja seperti dulu.

Tak lama kemudian datang pesan singkat yang lainnya, tapi dari nomor yang tidak dikenal. Ini Kaori? Kaka ini mamahnya Azure, bisa tidak Kaka meluangkan sedikit waktu untuk menjenguk Azure besok? Tante tunggu kehadirannya. Terimakasih. Kaori semakin bingung dengan keadaan ini. Dan lagi-lagi dia hanya bisa berharap semua akan baik-baik saja seperti hari kemarin.
***

Keesokan harinya Kaori datang ke rumah sakit tempat Azure diopname bersama Hijiri. Kaori sengaja mengajak Hijiri supanya dia bisa nebeng di motornya Hijiri. Sesampainya di depan kamar tempat Azure diopname, kedatangan mereka berdua disambut baik oleh kedua orang tua Azure, namun sepertinya kondisi ibunda Azure tidak begitu baik. Pertama kali Kaori melihat ibunda Azure menangis. Setelah bersalaman mereka berdua diminta masuk ke dalam kamar inap Azure. Dan apa yang Kaori lihat? Azure yang diinfus, dan kakinya memakai penyangga. Sepertinya lukanya memang fatal, karena saat Kaori mandekati Azure, dia melihat pipi Azure yang basah, seperti bekas menangis. Kaori semakin tidak tega melihat kondisi temannya itu. Ketika itu Azure memang sadar, dan dia sedang berbicang dengan Hijiri dengan intonasi terpatah-patah. Beberapa detik kemudian, semua sunyi, hanya terdengar detikan jarum jam dinding. Lalu, Kaori berusaha untuk meramaikan suasana, dia mencoba berkomunikasi kepada Azure.

Perlahan Kaori di kursi samping kasur tempat Azure berbaring. “Lo jangan marah ke gue lagi, gue benci kaya gini terus Zu. Kalo lo udah sembuh, apapun yang lo minta ke gue bakal gue turutin. Tapi lo janji, lo harus sembuh, bener deh gue ga akan nyusahin lo. Gue bakal beliin lo lapangan basket yang empuk, biar kalo lo jatuh lo ga akan sampe kaya gini lagi”, ungkap Kaori secara terbata-bata kepada Azure, dan Hijiri yang melihat itu semua hanya bisa menundukan kepala.
“Maaf”. Krikk krikk krikk, Hanya satu kata yang Azure sampaikan kepada Kaori setelah Kaori berbicara panjang lebar. Yaaa, ga apa-apa sih menurut Kaori, toh dari waktu itu juga Azure emang udah jutek. Karena itu Kaori keluar dari ruangan. Saat Kaori sudah pasti jauh dari ruangan Azure kembali berbincang lagi dengan Hijiri, namun tampaknya mereka sangat serius. Tapi, ga serius juga sih buktinya Hijiri masih ketawa geje saat berbincang dengan Azure.

Beberapa lama kemudian Kaori kembali lagi ke ruangan, bukan untuk berbincang dengan Azure melainkan mengajak Hijiri untuk pulang. Akhinya mereka pamit, saat mereka berada di pintu Azure berteriak dengan kesan memaksa “Ji inget kata-kata gue ya!”. Mereka pun pulang. Namun saat di tempat parkir motor, handphone Kaori berbunyi tanda ada telepon masuk. Diangkat lah telepon itu, dan terdengar suara wanita “Kaka, cepat kembali lagi ke rumah sakit, kondisi Azure menurun drastis, dia tak sadarkan diri ”, “Iya tante, Kaka akan kesana lagi”. Dengan gegabah Kaori langsung berlari tanpa meperdulikan Hijiri yang mengejar Kaori.

Sesampainya disana, Kaori sangat bersyukur karena Azure masih bisa sadar kembali. Tanpa berfikir panjang, Kaori langsung menghampiri Azure, dan yang Kaori lihat hanyalah senyuman Azure yang sangat Kaori rindukan. Setelah itu, Azure menutup matanya. Dengan spontan Kaori berteriak, hingga semua orang yang ada di luar termasuk dokter masuk ke dalam kamar inap. Dokter langsung memeriksa kondisi Azure, dan ternyata Azure sudah tiada. Air mata Kaori tumpah, dan menetes di tangan kanan Azure. Hijiri yang baru datang seakan-akan dia tahu bahwa hal ini pasti terjadi, tiba-tiba memeluk Kaori yang sedang menangis. “Tenang Kaka, lo harus kuat. Masih ada gue disini, gue akan ngejaga lo. Hidup lo masih panjang, Azure pasti akan ada selalu di hati lo. Buat dia bangga sama senyuman lo. Dia udah janji ke gue, meskipun dia udah ga ada pasti dia akan selalu ngejaga lo. Jangan khawatir, jangan nangis. Azure benci kalo lo ngelakuin hal itu. Maafin semua apa yang udah Azure lakuin ke elo, dia udah nyesel. Dia pengen banget bisa ngebahagiain elo, tapi bukan ini yang dia maksud. Ini semua bukan kita yang mau, tapi udah kehendak yang Diatas”. Saat itu, pelukan yang Kaori rasakan sama dengan pelukan dari Azure, tanpa sadar Kaori menatap wajah orang yang memeluknya itu dan dugaan Kaori benar, senyum Azure yang dia lihat. Namun semua itu hilang ketika Kaori mulai sadar yang memeluknya itu Hijiri. Tapi disisi lain Kaori tetap percaya, bahwa yang memeluknya pertamakali adalah Azure.

Sehari setelah kejadian itu, Hijiri berkunjung ke rumah Kaori.
“Ka, sebenernya, apa yang gue ucapin waktu kemarin adalah perkataan Azure buat lo, dia ga sanggup ngucapin itu ke elo. Karena dia ga mau nangis di depan lo” ucap Hijiri.
“Ga apa-apa nangis juga, depan gue ini ko”
“Bukan masalah itunya Ka, beliau takut kalo lo ikutan nangis juga. Itu semua beliau pesanin ke gue pas di rumah sakit”
“Tapi perasaan, menurut pendengaran gue ya, kalian berdua ngobrol sambil ketawa?”
“Yaaaa, itu tuh ketawa waktu gue meragaiin apa yang Azure pesenin, yaitu apa yang gue ucapin ke elo kemarin”
“Ohhhh”, dengan senyuman tipis yang Kaori buat pada bibirnya. “Yaudah, mulai sekarang lo jangan sedih lagi, ada Azure dan gue yang akan nemenin lo. Oh ya satu lagi, besok lo harus ikut gue ke Bogor, waktu beliau masih ada, Azure minta gue bawa lo kesana. Disana kita datangin rumah Azure, yang katanya sejuk itu. Tenang aja, nyokapnya Azure udah stand by disana ko”.
“Okaaaay, gue janji bakal nurutin apa yang Azure minta”, jawab Kaori
TAMAT
 
PROFIL PENULIS
Nama : Dita Puspitasari
Sekolah : SMPN 12 Bandung
TTL : Bandung, 30 Januari 1997
Email : dita.puspitasari_12@yahoo.com
Alamat : Sarijadi blok 13 no 13 Kec. Sukasari Bandung 40151

LOVE STORY


Oleh Ahmad Bahrin Nada

Love story itulah sebuah istilah yang lagi ngetren sekarang ini, seakan-akan cinta itu harus ada disetiap tempat dan waktu, dan seolah-olah yang namanya pacar itu pun menjadi suatu kewajiban yang harus dimiliki sebelum menikah dikalang anak-anak muda sekarang. Dengan didukungnya media dan teknologi yang canggih sekarang ini, cinta dapat dengan mudah didapatkan, diternak, dan dipermainkan.

Andik salah satu temanku yang berjuang untuk mendapatkan cinta dari seorang wanita, semenjak ia masih duduk dibangku sekolah dasar hingga kini ia telah dua kali menjadi sarjana, tapi semua perjuangannya itu selalu gagal. Sudah puluhan kali ia melesatkan ucapan maut seorang pria terhadap wanita yakni “I LOVE U”, tapi selalu meleset bahkan tidak menganai sasarannya sedikitpun. Ia seolah-olah tak pernah menyerah dalam mencari cintanya yang tidak jelas itu, berbagai tips dan trik-trik cinta ia pelajari, tapi semua itu tidak ada hasilnya sama sekali.

Diusianya sekarang yang hampir mendekati kepala tiga ini, aku prihatin dengan temanku yang satu ini, semua teman-temannya selalu mengolok-oloknya dikarenakan ia Sucin (susah cinta), dan akhir-akhir ini setiap temanku itu mendapat undangan resepsi pernikahan, ia tak pernah menghadirinya dikarenakan ia malu ketika menghadiri acara resepsi, dan pasti ia selalu ditanya tentang kapan ia menikah, sedangkan ia saja belum punya pacar apalagi calon.

Ketika masuk ruangan kantor tempat kerjaku, aku melihat sebuah undangan resepsi pernikahan berwarna merah dengan diikat oleh pita berwarna merah muda yang diletakkan diatas meja kerjaku, dengan rasa penasaran aku pun membuka tali pita itu pelan-pelan dan membaca surat udangan itu, ternyata disitu tertuliskan nama temanku Andik Prasetiyo dengan Eni Rahmawati. Aku pun terkejut setelah melihat nama temanku itu disurat undangan tersebut, dan yang membuatku terkejut lagi adalah nama calon pengantin wanitanya.

Aku bersyukur sekali atas planning temanku dari kecil itu, untuk menutup masa lajangnya dengan cara menuju ke plaminan, walaupun ia harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan seorang pacar yang mana ujung-ujungnya ia pasti gagal, tapi mungkin ia tidak ditakdirkan untuk berpacaran melainkan langsung menikah. Setelah aku menutup undangan itu aku pun tarik nafas panjang lalu duduk santai dikursi kerjaku yang empuk itu, aku pun tersenyum ketika mengingat perjuangan cinta terakhir temanku itu.

Dari sekian banyak wanita yang menolak cinta temanku itu, ada beberapa wanita yang membekas dihatinya yakni Rini. Rini adalah teman seruangku dan Andik ketika kita masih dibangku pasca sarjana, waktu itu memang antara Andik dan Rini sangatlah dekat, bahkan kemana-mana mereka selalu bersama, tapi kali ini Andik tidak seperti biasanya ketika ia suka sama seorang wanita pasti Andik akan cepat-cepat menembaknya dengan mengatakan cinta kepada orang yang dicintainya, karena ia takut kalau orang yang ia cintai didahului oleh orang lain.

Setelah satu semester mereka dipasca sarjana Andik berkeinginan untuk menembak orang yang selama ini selalu menemaninya kemanapun ia pergi, Andik pun telah menentukan hari, tempat dan waktu untuk ia menembak Rini. Sehari sebulum rencana andik untuk menembak Rini terlaksanakan, Rini meminta Andik untuk menemuinya dibelakang kampus sehabis matakuliah terakhir. Andik pun dengan senang hati menemui wanita pujaannya itu, tapi setelah ia menemui Rini dibelakang kampus dan mengobrol empat mata disana, andik kembali dengan tampang seperti orang stres, ia mendekatiku dengan mata berkaca-kaca dan badannya lemas sekali.

Aku pun membawanya pulang kerumahnya supaya ia bisa istirahat, entah apa yang mereka obrolkan dibelakang kampus sehingga membuat temanku yang satu ini menjadi lemah dan tidak berdaya, seperti orang keracunan bisa ular kobra. Setelah Andik agak enakan ia pun menyuruhku untuk mengambilkan undangan yang ada berada diranselnya, aku pun menuruti apa yang ia perintahkan, ketika aku lihat undangan itu, ternyata itu adalah undangan resepsi pernikahan.
“Apa jangan-jangan Andik stres gara-gara undangan ini ya?” pikirku sambil membolak balik undangan itu, dan tiba-tiba andik mendekatiku dan merampas undangan itu dari tanganku.
“Ini bro, kau tau ini? Ini undangan resepsi yang membuatku stres, ini undangannya si Rini perempuan yang aku idam-idamkan selama ini, dan esoknya hendak aku tembak, tapi apa? Ia malah memberiku undangan resepsi pernikahannya, padahal aku berharap penuh dengannya.” Kata Andik sambil meneteskan air mata dan meremas-remas undangan tersebut.
“Dah, yang sabar lagi lah, kayak kamu ini gak pernah ditolak cewek aja. Kayak didunia ini cewek cuman Rini aja, walaupun kamu gagal dapetin si Rini kamu kan bisa dapetin adiknya Rina, justru kalau menurutku lebih cantik Rina dari pada Rini, dan secara umur pun kamu dan Rina itu pas, beda empat tahun dibawah kamu.” Candaku kepadanya.

Akhirnya andik pun melakukan saranku yakni PDKT dengan Rina adik kandung dari Rini, walaupun saranku itu disertai dengan gurau tapi oleh andik ditanggapi serius. Setelah beberapa hari kejadian yang sangat memukul Andik itu pun mulai sedik-sedikit terhapus dari pikiran kawanku itu, sekarang andik pun fokus untuk mendapatkan Rina seorang mahasiswi jurusan kedokteran di UNAIR. Andik pun berusaha mencari perhatian Rina dengan berbagai cara, setelah sebulan andik melakukan PDKT terhadap Rina, kali ini ia tak mau tunggu lama untuk menembaknya.

Setelah Andik mengatakan cinta kepada Rina, akhirnya ia pun diterima, dan baru kali ini dalam seumur hidupnya cintanya diterima oleh seorang wanita, dan setelah ia menjalani cintanya selama setahun, setelah setahun Andik pun harus bercinta jarak jauh selama tiga bulan, dikarenakan ia harus mencari bahan buat buku karangannya yang menjadi salah satu syarat untuk ujian akhir nanti.

Tiga bulan pun berlalu, akhirnya Andik pun pulang dari singapura dengan membawa hasil kerjanya selama ini, setelah lama ia tidak bertemu dengan Rina ia pun mencoba main kerumahnya. Sesampainya disana ia mengetuk pintu rumahnya Rina, ketika pintu dibuka yang ia lihat bukanlah Rina yang membukanya melain seorang laki-laki yang seumuran Andik, tak lain lagi laki-laki itu adalah teman kosnya Andik dulu ketika ia masih di Malang, ketika Andik masih menempuh S1 disana. Setelah lama andik berbincang-bincang dengan teman lamanya itu, sebut saja Anto, Andik baru ingat dengan tujuannya ia datang kesana.
“Oh iya bro, aku datang kemari tadi tu tujuanku ingin bertemu dengan Rina, Rinanya adakan ya?” Tanya Andik.
“Rina istriku maksud kamu? Kok kamu tau kalau aku sudah nikah dapat Rina, dia lagi main kerumah neneknya di Gresik sana, aku ditinggal sendirian nih.” Jawab Anto tenang.
“Lho! Rina tu istri kamu, Rina anak fakultas kedokteran itu? Adiknya Rini itu?” tanya Andik kebingungan sambil keheranan.
“Iya betul, Rina adiknya Rini, ya kita baru sebulan yang lalu menikah, ya terpaksa dia harus cuti kuliahnya dulu satu semester.” Jawab Anto dengan santai.

Dengan rasa sangat kecewa Andik pun berpamitan dengan teman lamanya itu untuk kembali kerumah, sepulang dari dari rumahnya Rina, Andik pun pergi kerumahku, sesampainya dirumahku seperti biasa badannya lemas dan tampangnya pucat.
“Bro, lagi-lagi gagal nih, memang malang betul nasibku ini, aku sudah kapok jatuh cinta lagi bro.” Ucap Andik kepadaku sambil membantingkan tubuhnya dikasur kamarku.
“Yaelah, Andik Andik, your love story is broken banget, capek aku mikirin kamu dik.” Ucapku sambil melempar bantal ke Andik.
“Sudahlah dik, lagi-lagi kamu memang harus bersabar yang melebihi orang sabar, kalau kamu masih berhati baja kamu kan masih bisa pakek jalan terakhir yakni dengan cara kamu incar tu adiknya Rini dan Rina yang masih duduk dibangku SMA atau kalau kamu mau yang extrim lagi ibunya mereka sekalian kamu pacarin.”
Lagi-lagi andik menanggapi serius candaku itu, ia pun bertekat untuk mendekati adik dari orang-orang yang telah gagal ia curi hatinya itu, ia pun terus berusaha sampai bisa mendapatkan Rani, adik bungsu dari Rina dan Rini, tapi setelah ia berhasil mendekati Rani, Andik pun berjanji akan melamar Rani setelah Rani lulus dari SMA nanti. Dan setelah Rani lulus SMA dan Andik pun telah mendapat gelar “Drs”, Andik mencoba untuk menghaturkan niatnya untuk melamar si Rani kerumahnya.

Entah mimpi apa andik semalam, ketika ia melamar kerumahnya Rani dan menghaturkan niat mulianya itu, Andik ditolak mentah-mentah oleh pamannya Rani, dikarenakan Rani masih terlalu muda untuk menikah, dan Rani pun disuruh untuk melanjutkan belajarnya dulu ke perguruan tinggi baru ia boleh menikah. Dan setelah ditolaknya Andik untuk melamar Rina, ia pun tak pernah menemuiku lagi, tak pernah lagi datang kerumahku dan tidak ada kabar tetang si Andik temanku itu.
Waktu itu aku sempat berfikir ‘jangan-jangan andik bunuh diri atau menyendiri disuatu tempat yang tidak diketahui oleh orang, kok dia sudah tidak ada kabar lagi.’

Tapi semua itu terjawab ketika aku melihat undangan resepsi pernikahan yang ada diatas meja kerjaku, aku lega dan bersyukur atas kabar baik temanku ini, walaupun perjuangannya yang sangat pedih itu akhirnya usai juga dan terbalas atas pernikahannya dengan wanita pilihanya yaitu Eni Rahmawati yang tak lain lagi ialah ibu kandung dari Rini, Rina, dan Rani.
Tuban, 01 Mei 2012

KAMU BUKAN AKHIR CERITAKU


Cerpen Nui Irwanti

Ketika aku terbangun dari tidurku, aku berfikir “apa yang akan terjadi nanti di sekolah”. Hmm, memang itu yang rutin aku fikirkan setiap bangun tidur. Setan membisikan kemalasannya, hooamm, aku malas beranjak dari tempat tidur. Inginnya disini sampai bosan, memang kerjaan setan. Tapi aku coba bangun, aku ambil air wudhu untuk sholat subuh. Setelah selesai fikiranku mulai bersih, tak ada lagi kemalasan.

Tiba di sekolah seperti biasa, berfikir bahwa pelajaran untuk hari ini membosankan. Saat istirahat pertama aku ke kantin sekolah dengan muka yang tak sabar. Tak sia-sia aku ke kantin, disana ada kakak kelasku.namanya Restu. “ka Restu ganteng banget sob !” itu yang ku bilang pada sobatku. Sobatku yang ini namanya Alisa, dia cantik terus setia kawan. Seringnya Alisa buatku tertawa, tapi dia sering dibuat menangis olehku, aku jail sih. Itu yang sering sobat lain katakan.

Saat istirahat pertama berakhir, guru yang mau ngajar udah siap masuk kelasku. Saat masuk aroma kebosanan mulai tercium. Aneh, yang aku dengarkan bukan guru yang sedang menerangkan, melainkan ocehan dari kelas sebelah yang sangat mengganggu pendengaranku.
Kembali ku lirik jam di dinding belakang, pikirku masih lama berada di suasana yang membosankan seperti ini. Terdengar suara spiker dari arah kantor, “kepada semua guru yang sedang mengajar, agar menyuruh semua murid untuk membersihkan kelas kemudian ke lapang upacara untuk mendengarkan kepala sekolah memberi pengumuman”. Semua murid bersorak “hoorreee pulang”.

Seperti biasa setiap pulang sekolah aku ajak sobatku yaitu Alisa dan Frisa untuk main ke rumah, mereka setuju. “Frisa aku suka si Yudi !” ujarku sambil jalan menuju gerbang. Setelah mendengar itu Frisa dan Alisa tertawa lepas, aku terheran seketika, “ko ketawa ? ga ada yang lucu kan ?”, “lo lucu Nindya !”. Frisa dan Alisa kompak bicara seperti itu.

Tiba di rumahku sepi seperti biasa tak ada orang, mereka langsung menuju kamarku, melihat kamarku yang beres tak berantakan, mereka terheran. “tumben Nin” ujar Alisa, “tumben apaan ih ?” jawabku, “kamar lo beres dodol !” jawab mereka.

Di rumah mereka menceritakan yang rutin mereka ceritakan, yaitu cowok. Hampir bosan di buatnya, tapi tak apalah sebagai pendengar yang baik aku dengarkan mereka. Sebenarnya aku udah males dengerin mereka, ya aku pura-pura ayahku mau pulang, jadi mereka aku suruh pulang. Emang agak kejam sih bohongin mereka kaya gitu, tapi mau gimana lagi. Orang aku udah engeh banget ih. Bawaannya bosan.

Tapi sayangnya setelah mereka pulang, aku malah tambah bosan, jadinya jenuh banget. Agak nyesel sih nyuruh mereka pulang, tapi lah gumamku biarin aja, daripada telinga aku panas. Huhh, Pikirku, mau ngapain ini, ya aku buka facebook aku deh. Eh pas buka facebook ada yang lewat di beranda namanya “Janut Penghancur”, dia buat status ga jelas gitu, saking penasaran baca statusnya yang ga jelas aku jadi keingetan sama nama panggilan itu, kaya yang ga asing, tapi siapa gitu.

Ku buka tuh profilnya, eh pas liat fotonya, ternyata dia temen SMP aku yang terkenal badung banget, pantes aja nama itu ga asing. Terlintas di pikiranku buat ngomen tuh foto, dia bales, kita komen-komenan, akhirnya dia minta nomer hp aku, ya aku kasih deh.
Pertama dia sms aku tuh kaya happy gimana gitu. Rasanya tuh kaya yang mau pedekate, haha. Tapi emang bener, setelah beberapa hari kita smsan dia nembak aku, seneng tambah rasa ga percaya sih, paling dia cuma iseng, tapi anehnya kata-katanya itu emang meyakinkan banget. Karena aku ada rasa, akhirnya aku terima tuh orang.

Setelah hari itu jadian, tepatnya tanggal 26 Februari, aku jadi ga bisa tidur. Inget terus sama pacar baru. Tapi aku tidur juga sih, kan besok sekolah. Tiba di sekolah seperti biasa, ku melangkah melewati gerbang, rasanya kejenuhan mulai datang. Aku hampiri kedua sohibku, aku ceritakan apa yang aku alami tadi malam, mereka bersorak seperti mendengar idola mereka mau datang.”ih malu-maluin lo berdua”, bisik-bisik aku mengatakan itu pada mereka.

Ku ceritakan dari pertama aku komen fotonya sampai tadi malam jadian, mereka seperti asik banget dengerin cerita aku. "cie CLBK tuh ! alias Cinta Lama Bertemu Karenafacebook" ujar Frisa sambil tertawa lepas, aku tersipu malu mendengar Frisa.
Ga terasa udah satu bulan aku menjalin hubungan dengan dia, makin hari aku makin sayang, tapi entah kenapa rasanya dia semakin bosan sama aku. Ah mungkin itu hanya perasaanku saja, makin hari dia emang makin cuek, pernah sesekali dia menghilang berjam-jam, dengan alasan yang sama yaitu ga bawa hp.

Pagi pun tiba, aku terbangun dan seperti biasa bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Waktu lagi di jalan menuju ke sekolah, aku liat pacarku berpenampilan rapi, dan seperti akan pergi jauh entah kemana. Karena penasaran aku sms dia "mau kemana yank? rapi banget" ujarku di sms itu. Dia bales agak lama, pas aku udah nyampe di sekolah dia bales "mau kerja yank ! baik-baik yah ! aku ngerti berat buat kamu jauh dari aku, tapi aku udah bosen disini ga ada kerjaan !".

Aku berlari ke arah dua sohibku, dan setelah dekat mereka, aku berdiri di depan mereka dengan mata yang berkaca-kaca, "lo kenapa?" saut Alisa, rasanya nyesek banget sampe-sampe aku ga bisa ngomong, "Janut pergi", jawabku walaupun susah untuk menyampaikan, "apa? mati gitu?" Frisa dengan wajah heran bicara seperti itu. Mendengar omongan Frisa, tangisanku makin keras.

Waktunya untuk memulai pelajaran ku coba untuk melupakan semua yang terjadi tadi padaku.
Dari situ Janut ga hubungin aku lagi, kita kaya yang udah ga ada hubungan. Padahal aku belum dengar kata putus dari mulutnya. Udah beberapa hari aku terbangun dengan mata bengkak, karena tangisanku yang rutin ku keluarkan setiap mau tidur.

Aku sadar akhir hidupku bukan dia, aku sadar mimpiku takkan berhenti karenanya. Aku mengenalnya kembali untuk membuka awal dari mimpiku yang tertunda karena hadirmya. Dari situ aku tak pernah mendengar kabarnya lagi, facebooknya pun jarang dia buka, nomer hpnya pun udah ga aktif.

Ambisiku untuk lulus sekolah dan mencapai angan-anganku kembali ku jalani.
Dan aku sadari KAMU BUKAN AKHIR CERITA hidupku yang masih panjang.

WILL YOU MARRY ME?ki


Cerpen Lavenska D' Angel

Langit sore ini cukup bersahabat. Memang.. ini baru pukul 14.30 siang tapi aku tidak merasakan sinar matahari yang berlebihan. Setidaknya sinar matahari ini tidak terlalu menyengat dan menyebarkan bau khasnya. Kau tau seperti apa bau matahari itu? Cobalah untuk mencari tahu dan menikmatinya sendiri. Maaf, aku sedikit pelit tentang penjelasan mengenai bau matahari tadi. Dan sepertinya bau matahari itu tidak kucium sore ini dan ini sedikit membuatku berani untuk duduk santai di halaman rumah kontrakanku yang yaa.. menurutku cukup layak untuk bisa disebut dengan rumah. Memang belum bisa disebut sebagai rumah modern karena memang bentuk rumah yang terkesan ‘antik’. Rumput jepang yang menyemut memenuhi teras rumahku kadang-kadang sedikit membuatku kesulitan untuk menyapu halaman. Cat rumah yang berwarna putih memudar makin menambah kesan antik pada rumah kontrakanku ini. Pot-pot gantung berjejer rapi di sisi kanan teras rumah. Hey.. jangan salah, aku seorang laki-laki dan aku suka bunga, apakah itu suatu masalah? Kurasa tidak. Rumah ini mempunyai 5 ruang, 1 ruang tamu, 1 ruang makan, 2 ruang kamar tidur (seharusnya memang dua, tapi aku hanya mempergunakan 1 ruang untuk kamar tidur, sisanya? Gudang), dan 1 ruang untuk kamar mandi. Lumayan kan? Lumayan mini untuk bisa disebut sebagai rumah. Tapi rumah kontrakanku ini masih tergolong layak huni dibandingkan dengan rumah-rumah penduduk di sekitarku. Entah lah, aku pun masih bertanya-tanya, masihkah wilayahku ini termasuk dalam provinsi Lampung?

Entah bumi yang semakin renta atau kulit ku yang memang sedikit manja, tapi kulitku ini memang sejenis dengan kulit-kulit orang kaya di kota. Bagimana tidak? aku tidak bisa terkena sinar matahari terlalu lama. Kau tau seperti apa kulit setengah melepuh? Yaah.. seperti itulah kulitku jika terkena sinar matahari terlalu lama. Sedikit mengerikan.
“hey..

Aku tak bergeming. Aku masih terbawa indahnya langit sore ini. Lagi pula tak bisakah wanita disebelahku ini duduk santai lalu menikmati indahnya sore sepertiku?
“sepertinya aku memang harus mencuri uang ibu..”

Aktifitas lamunanku mendadak dipaksa terhenti. Aku melirik wanita disebelahku malas “apa..?”
“aku harus mencuri uang ibuku..”

Aku tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalaku “jangan gila...”
“hidup yang memaksaku untuk gila”

Sepertinya wanita disebelahku ini benar-benar memaksaku untuk menghentikan aktifitas lamunanku. Aku mengubah posisi dudukku menghadap dirinya, melipat kakiku kedepan lalu mulai memusatkan perhatianku padanya “Oke.. kau butuh uang berapa..?”
“Aku hanya ingin ibu peka terhadap hatiku”

Aku tertawa sinis. Bagaimana bisa ia menuntut rasa peka dari seorang ibu seperti ibunya itu..? rasa peka..? bahkan mungkin sekarang rasa cinta pun ia tak punya. Ya.. aku yakin itu.
“apa yang lucu..?! kenapa kau malah tertawa haah..?” tanyanya sewot.
“kau pikir saja sendiri apa yang lucu” jawabku cuek. Sejujurnya aku masih ingin menikmati indahnya langit sore ini.
“Fatih..!!” ia memanggil namaku kuat “tidak bisakah kau sedikit bersimpati terhadap keadaanku..?”
Alis kananku refleks naik “simpati..?”
“yaa..!”

Aku mengangkat kedua bahuku pelan lalu mengembalikan posisi dudukku seperti semula. Rasa simpatiku sudah terlalu banyak kuberikan untukmu, hey wanita. Apakah kau tidak menyadarinya?
“ ‘simpati katamu..? aku sudah bosan bersimpati terhadap keadaanmu’”

Aku mengerutkan keningku “apa..? kau mengatakan apa tadi?”
“bukankah kamu baru saja mengatakan kalimat itu didalam hatimu?”
“haaahh..?” aku menganga dengan bodohnya. Sial..! bagaimana ia bisa tahu? “hahahaha...” dan kali ini aku tertawa. Tunggu dulu, untuk apa aku tertawa? Secepat kilat kuhentikan tawaku lalu menoleh kearahnya. Sudah kuduga.. Ia menatap tajam kearahku “hey.. is there something wrong?” tanyaku (sok) polos.

Ia tidak mengubah ekspresinya dan tidak mengatakan apapun.
“hey.. ayolah..” aku meninju bahunya pelan “oke..oke.. mm.. begini saja, kita kembali ke topik awal. Jadi.. kapan kira-kira kamu mau mencuri uang ibumu?” Ya Tuhan.. kenapa aku malah menanyakan hal ini padanya..? “mm.. maksudku kenapa..? eh, bukan.. mm.. “ kalimatku terhenti. Aku kehabisan kata-kata.
Dan tatapannya semakin tajam kearahku.
Aku menyerah. Kuletakkan kaca mataku lalu mengerjapkan kedua mataku, mengambil kain pembersih kaca mataku lalu mulai membersihkan lensanya “menurutku, ada kalanya hidup ini berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Seperti saat ketika aku menginginkan ibuku untuk tidak bercerai dengan ayah dan membiarkanku hidup bersama duniaku yang mungkin hanya ada aku dan rasa kesepianku. Tapi inilah hidup.. mau tidak mau, suka tidak suka, memang harus tetap berjalan. Kamu ingat kalimat yang kamu ucapkan ketika aku berniat untuk kabur dari rumah 5 bulan yang lalu? Berusahalah untuk tidak menghitung kesulitan, karena jika kamu terlalu sering menghitungnya maka kemudahan akan terlihat biasa saja. Rencana Tuhan selalu berakhir dengan kebaikan dan jika yang kamu dapatkan belum baik, maka itu bukanlah akhir”
Kalimatku ampuh. Tatapannya berubah “kamu selalu bisa menghandle situasi”
Aku tersenyum lembut “tentu saja..”

Ia mencoba untuk tersenyum ”kadang aku merasa Tuhan tidak melindungiku”
“Kalau Tuhan tidak melindungimu, kamu mungkin sudah mati”
“mungkin mati lebih baik untukku”
“kamu pikir mati itu adalah solusi dari semua masalahmu? Solusi dari semua rasa sakit hatimu? Solusi dari kemiringan akal sehat ibumu?”

Ekspresi wajahnya berubah. Ia menoleh cepat kearahku “jangan pernah menghakimi ibuku, fatih..! cukup aku dan takdir yang boleh menghakimi perbuatannya padaku”
“hahaha...” aku tertawa keras lalu menghempaskan tinju ke udara “bodoh..! Apa kau pikir ibumu melindungimu saat teman kantornya berusaha masuk kekamarmu lalu..”
“Aku mau pulang..!” ia memotong kalimatku “kamu mulai terasa seperti TeVe hitam putihku, membosankan.”

Aku terdiam namun masih menyisakan sedikit tarikan kecil di sudut kanan bibirku. Dasar payah.. kenapa pula harus aku yang ia pilih untuk menanggung rasa empati yang begitu besar terhadap dirinya? Haah..! siaal..!
“maaf.. aku.. hanya tidak suka masalah itu kau ungkit-ungkit lagi” ia memegang tanganku lembut lalu tersenyum “yang jelas, aku senang bisa bersamamu saat ini..”
Pipiku memerah. Aku salah tingkah dan emosiku menguap. Bagaimana aku bisa melewatkan sedetikpun senyuman dibibirnya itu? Mau tidak mau, aku memang terhipnotis oleh senyuman dan ucapannya “ouh.. syukurlah” hanya itu yang mampu ku ucapkan.
Fairy masih mempertahankan senyuman dibibirnya. Matanya tidak berkedip menatapku dan bagiku tatapannya mulai menggoda kestabilan hatiku.

Suasana mulai terasa berbeda. Bukan karena kami yang mulai merasakan atmosfir yang berbeda tapi karena memang adzan maghrib yang seolah-olah menamparku dan membuatku menekan dalam-dalam keinginan untuk tetap duduk disamping Fairy, Wanita yang menjadi lawan bicaraku saat ini. Wanita yang sudah 10 tahun menganggapku sebagai sahabatnya. Yaah.. sahabatnya. Tidak pernah lebih dari itu.
“Aku pulang, fath. Semoga besok bisa kesini lagi” Fairy menatapku sambil tersenyum manis. Ia membetulkan poni rambutnya lalu mengikat rambut sebahunya menjadi satu kebelakang.
“kamu serius mau nyuri uang ibu kamu..? buat apa? Kamu bisa pakai uang ku dulu kalau kamu mau”
“aku sudah bilang.. aku hanya ingin ibu peka terhadap keadaanku”
“ibumu tidak pernah mengenal rasa peka, fairy!”
“Everything’s gonna be alright, okay?”
“tapi, fa..” kalimatku menggantung diudara, Fairy sudah terlanjur menstarter motornya dan pergi.
Aku terduduk lemas. Apa dia pikir dia adalah wonder woman atau super girl yang bisa dengan mudah melawan kegilaan ibunya? Apa dia pikir dia tidak membutuhkan pertolonganku lagi? Lalu apalagi yang akan terjadi esok, Tuhan..? Haruskah aku pergi menyusulnya? Atau apakah aku harus diam mematung disini sampai akhirnya membiarkan jantungku mau copot karena berdetak dengan ritme yang kacau secara terus menerus? Ah, Tuhan.. beri tahu aku, apa yang harus kulakukan..??
*****

“hey anak siaal...! keluaarrrr..!!”

Aku mengerjapkan mataku. Kuraih Jam alarm kecil di meja sebelah ranjang reyot tempat tidurku. Masih jam 05.00 pagi, tidak mungkin Fairy datang sepagi ini kan? Lalu suara tadi?
“heeyyyy..!! keluaarrr..!!”
Mataku mendadak terbuka lebar. Suara itu memang benar-benar ada. Siapa pula yang berani teriak-teriak di depan kontrakanku ini? Tukang ronda kah? Atau....
CTARRR...!
Pintu ku dilempar dengan batu. Emosi ku naik. Buru-buru kusambar kaos oblong yang kugantung dibalik pintu kamarku, Setelah membetulkan posisi sarung tidur dan kaca mataku, aku keluar kamar dengan sedikit terburu-buru.
“hey...apa-apaan ini..?!! kamu siapa..?!” tanyaku keras setelah membuka pintu kontrakanku.
“mana Fairy?! Dia pasti ada bersama kamu kan? Anak siaaalaaan..!!”

Aku mengerutkan keningku. Kupastikan kaca mata memang telah kupakai. Agak kabur penglihatanku. Atau memang suasana yang masih gelap membuat lemah indra penglihatanku?
“heh, anak dungu..! saya tanya kemana Fairy?! Kamu tuli..?!”

Astaga.. apakah ini ibunya Fairy? Aku berjalan cepat ke arah gerbang kayu rumah kontrakanku, berusaha untuk lebih dekat untuk memastikan apakah benar wanita paruh baya ini adalah ibunya Fairy. Dan ternyata aku benar. Ia benar-benar ibunya Fairy “Fairy gak ada disini..!!” seruku lantang.
“jangan coba-coba berbohong dengan saya ya?! Kamu bisa mati..!” menurutku bola mata wanita ini hampir keluar.
Aku membuka pintu gerbang “silahkan di check...!” sampai detik ini, aku masih barusaha tenang.
Wanita yang menurutku lebih menyeramkan dari nenek lampir ini melihatku sinis. Ia memiringkan sedikit kepalanya sambil menatap tajam kearahku “awas kalau kamu berbohong padaku..!” ia mendorong dadaku kasar lalu berjalan cepat ke dalam rumah kontrakanku.

Tidak kusangka sosoknya lebih menyeramkan dari apa yang Fairy ceritakan padaku. Dadaku berdegup kencang, lalu dimana Fairy jika ia tidak ada dirumah? Apakah sesuatu telah terjadi padanya?
“kemaanaaa dia..?!! aarggghhhhh...!!”

Aku sedikit tersentak. Teriakan ibunya fairy menarik paksa lamunanku. Ia keluar dari rumahku dengan wajah memerah marah.
“dengar, kalau Fairy datang menemui kamu, bilang sama dia kalau dia bakal mati hari ini juga..! kau dengar?! Dia bakal mati hari ini jugaa..!!”

Aku menarik alis kananku, sedikit menunjukkan ekspresi bahwa aku memang tidak menyukainya tanpa berkata sepatah kata pun.
“heh..! kau dengar aku..??!!” ia berteriak lagi.
“anda bisa melihat gerbang keluar? Silahkan pergi...”

Tidak terima dengan kalimatku, ibunya Fairy menarik kerah bajuku kuat “jangan pernah bermain-main denganku. Kamu tahu bahwa aku bisa saja membunuhmu saat ini juga. Jangan kamu kira aku tidak berani..! aku tidak takut dipenjara..!”
“mmh...” aku mengernyitkan dahiku. Kerutan di wajah ibunya Fairy makin terlihat olehku . Ini bukan jarak yang aman bagiku untuk mengambil nafas panjang. Aku mendorong bahunya dengan jari telunjukku “jaga jarakmu denganku, ibu tua. Bau busuk neraka terlalu menyengat darimu. Sepertinya kamu perlu tahu satu hal, Aku juga bisa membunuh ibu saat ini juga! Tapi menurutkuku, menemukan Fairy itu jauh lebih memuaskanku daripada melakukan hal sia-sia dengan mengotori tanganku untukmu. Jangan ibu kira bahwa aku tidak mengetahui semua ketidak warasan yang ibu lakukan selama ini pada Fairy! Dan kamu harus tahu, aku akan membunuhmu kalau Fairy benar-benar mati karenamu”
“hahahahaha...” suara tawanya terdengar sangat menjijikan “apa fairy juga sudah meracuni pikiranmu, anak muda...! seperti ia meracuni akal sehat Reno, suamiku..!!”
“aku minta ibu pergi sekarang juga...!” Aku sudah sangat muak padanya.
“dari awal aku sudah katakan padanya bahwa aku benci mempunyai anak seperti dia. Menyakitkan sekali saat semua orang bilang bahwa ia lebih terlihat menarik dari pada aku! Aku membenci kalimat-kalimat itu! Dan suamiku.. suami ku pun lama-lama mulai terlihat aneh. Ia mulai menyukai Fairy! Jika Fairy bukan racun, lalu apa..??!! ia merebut kecantikanku, ia merebut suamiku dan ia merebut semua kebahagiaanku! Dan kau tau apa yang terjadi malam tadi?? ia mencuri semua perhiasan dan tabunganku. Bukan hanya itu, suami ku pun ikut pergi bersamanya..!!!”

Aku tersentak. Reno ikut pergi bersama Fairy?? omong kosong apa lagi ini?!
“dasar anak haraam...!!!” wanita dihadapanku menggeram kuat.
Demi Tuhan.. aku sudah tidak kuat lagi. Kudorong tubuh wanita didepanku kasar. Ia terjerembab ke tanah, wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia tidak terima terhadap perlakuanku “oke.. aku pergi.. tapi ingat, Fairy akan mati hari ini juga..! dan kamu, akan menangis darah sepanjang malam. Aku tahu kamu menyukainya sejak dulu. Dan akan menjadi sangat menyenangkan bagiku saat melihat harapan hidupmu hancur bersama kematian Fairy..!” ia membersihkan celana jeans bagian belakangnya lalu merapikan rambut bergelombang sepinggang miliknya. Dengan santai ia mengeluarkan kaca kecil dari dalam tasnya lalu merapikan rambut yang menutupi mata sipitnya. Dan akhirnya ia menggelar kipas besarnya lalu pergi sambil mengibaskan kipas ke wajahnya angkuh.
Aku masih berdiri kaku ditempatku. Siapa yang tidak mengenal ibunya Fairy di daerah ini. Seorang rentenir besar dan aku tahu ia bisa melakukan apa saja sekehendak hatinya. Tapi aku tidak perduli tentang itu. Aku hanya belum percaya apa yang baru saja terjadi. Jadi Fairy memang benar-benar jadi mencuri uang ibunya? Inikah kepekaan yang Fairy inginkan? Dasar bodoh..! LaLu Reno? Kenapa Reno pun ikut pergi bersamanya? Kenapa Reno? Kenapa Reno..? kenapa harus bersama Reno?
Aku mengumpat pelan. Pagi baru saja menyapa tapi semua ‘kejutan’ ini membuatku hampir tak sanggup melanjutkan tarikan nafasku ke siang hari. Kali ini Fairy benar-benar membuatku gila.
Kulangkahkan kakiku pelan. Rumput jepang dihalamanku sudah mulai panjang. Sudut mataku seolah melukis bayangan Fairy yang tersenyum samar di halaman rumahku kemarin sore. Aku semakin lemas, dimana dia..?

Nada dering panggilan handphoneku mengagetkanku. Agak gontai aku berjalan kekamar. Kutekan tombol ‘jawab’ tanpa melihat si penelfon “iyaa.. halo?”
“saudara fatih?” suara seorang wanita. Agak terdengar berat.
“iyaa..?” aku menjauhkan handphone sesaat lalu melihat ke layar handphone, aku tersentak, ini nomor fairy?? Jantungku kembali berdegup kencang “halo..! fairy?? ini nomor Fairy kan?!”
“ouh.. anda benar temannya pemilik handphone ini? Maaf.. kami menemukan pemilik handphone ini tergeletak di pinggir jalan raya. Tidak ada identitas sepertinya. Saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Kami berulang kali memastikan apakah wanita ini masih hidup atau tidak, tapi dengan sangat menyesal sepertinya ia sudah tidak bernafas lagi...”

Deg..! mataku membulat kaget. Jantungku semakin berdegup kencang namun seluruh persendianku lemas. Aku terduduk lesu “a..apakah ia bersama seorang laki-laki?” aku mencoba mengeluarkan suara setenang mungkin.
“tidak.. ia sendiri. Maaf, anda bisa keluar rumah sekarang?”

Kakiku serasa tidak menginjak bumi. Kepalaku mendadak pusing. Aku terduduk lemas. Fairy...me..ninggal..?
“halo..?? halo..?”

Aku tergagap “iya..? lalu ada dimana Fairy sekarang?” suaraku mulai serak. Nampaknya aku menangis. O..tidak.. aku seorang laki-laki. Aku tidak menangis, aku hanya menitikkan air mata. Ya Tuhaan... payah sekali aku ini.
“Fairy tepat berada dibelakangmu..”
“apa..??!” refleks aku membalikkan badanku. Mataku dengan cepat menangkap sosok seorang wanita di depanku. Tunggu dulu.. mataku sedikit kabur, aku mencoba melepas kaca mataku lalu mengusap air mataku dengan cepat. Kali ini aku bisa melihatnya dengan jelas. Jelas... sangat jelas.
“will u marry me, fatih farhat..?”

Mataku kembali berkabut. Siaall...!! ia benar-benar Fairy..! aku berlari memeluk tubuhnya. Aku tidak akan perduli lagi dengan air mataku yang seolah berteriak mengejek ke cengenganku.
“hey....? sudahlah... air matamu itu sedikit menggangguku”
Aku tertawa kecil “aku tidak perduli. Ini belum ada apa-apanya dengan rasa khawatir karena ketololanmu. Dasar bodoh..!”
Fairy melepaskan pelukanku. Ia tersenyum sambil menarik daguku lembut “kau terlihat payah...”

Aku memiringkan sedikit kepalaku lalu menarik alisku ke atas. Aku tidak percaya ini. Jadi ia...
“yaa... aku sedikit mempermainkan rasa khawatir di hatimu. Payah sekali dirimu ini. Mengapa kamu tidak bisa mengenali suaraku haah..? dalam berbagai situasi, harusnya kau tetap bisa mengenali suaraku..”
“maaf.. aku terlalu shock tadi. Tunggu dulu.. tadi sepertinya kamu mengucapkan sesuatu?”
“sesuatu? Apa..?”
“do u say will you marry me?”
Fairy tertawa kecil. Ia tertunduk sesaat lalu meraih kedua tanganku “will you marry me?” wajahnya memerah.

Aku menatap matanya “apa..??” entah kenapa, jantungku berpacu lebih cepat.
“kau membuatku semakin salah tingkah, bodoh..!”

Aku mencoba untuk tertawa. Namun yang keluar hanyalah suara seringai yang aneh. Aku menatap matanya lagi, mencoba mencari kesungguhan kata-katanya.
“apakah ini terlalu tiba-tiba? Atau momentnya yang kurang pas?” lagi-lagi ia tersenyum.
“ibumu mencarimu, fairy. Reno bersamamu?”
Raut wajah Fairy berubah. Ia menarik nafas panjang lalu melepaskan genggaman tangannya. Disenderkannya tubuhnya ke dinding ruang tamu kontrakanku sambil melepas topinya “ibuku kesini?” ia menatapku.

Aku tidak menjawab. Aku hanya membalas tatapannya tanpa ekspresi.
“ya.. aku mencuri semuanya tapi tentang Reno? Aku tak tahu...”
“Ibumu bilang Reno pergi bersamamamu...”
“sudah kubilang aku tak tahu....!!”

Aku menghela nafas panjang “aku tidak mengerti... untuk apa kamu melakukan semua ini. Aku tahu semua ini berat untukmu. Menjalani hidup satu rumah dengan manusia setengah iblis seperti ibumu mungkin sudah membuatmu gila. Tapi ini tidak akan mengubah apapun, fairy. Ibumu menyangka kalau kamu pergi bersama Reno dan membawa kabur uang dan semua perhiasannya..”
“aku hanya mengambil uangnya” ia menyela kalimatku “mungkin Reno yang mengambil perhiasannya”
“oke... apapun itu tapi ibumu sedang mencarimu saat ini”
“aku mencintaimu, Fatih farhat..”
“diamlah...!”
“aku mencintaimu..!”

Aku terdiam. Ada apa dengannya..?
“apa kamu pikir mudah untukku mengucapkan kata-kata ‘aku mencintaimu’..?” Fairy menatap mataku sayu. Ia tertunduk sesaat lalu tak lama kemudian ia menegakkan kepalanya “kau tau aku tidak mempunyai banyak waktu untuk mengungkapan ini semua. Aku terlalu bingung harus menceritakan yang mana. Aku mencintaimu dan apakah itu salah..?!”
“Fairy.. ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan masalah hati. Kita harus memikirkan tentang keselamatanmu dulu...”
“waktuku habis, Fatih.. Kau memang tidak mencintaiku..”
“Fairy... bukan itu maksudku...”
“aku harus pergi....”
“tidak, fairy...! kamu jangan pergi dulu..! aku mohon...! Fairy...!! Fairy.....!!”
“hey, bodoh..! bangun..!!”

Aku tergagap. Nafasku masih naik turun. Refleks aku menengok ke kanan dan ke kiri. Mataku menemukan apa yang aku cari “Ya Tuhan, Fairy..!” aku memeluknya erat.
“Astaga... kamu kenapa, fat? Hey...! Kamu mimpi buruk?” Fairy mengelus rambutku lembut.

Aku tersentak “apa? mim..pi? aku bermimpi?”
“Ayolah... kamu tidur di sebelahku dari tadi. Kau membiarkanku mengobrol sendirian dan meninggalkanku tidur. Dasar payah..! ini sudah jam 6 sore dan aku harus pulang. Mengapa pula aku harus menunggumu bangun untuk bisa pulang kerumah? Yaah.. tentu saja karena aku adalah seorang tamu yang baik. Datang dan pulang dengan penuh kesopanan. Iya kan, fath??” Fairy melepaskan pelukanku. Ia menatap mataku sambil tersenyum manis.

Aku seperti kaku di tempat. Mataku tak lepas menatap matanya. Sampai saat ini nafasku masih belum stabil. Tuhan.. kali ini aku tidak bermimpi kan..??
“fatih..??”
“Love you, fa...”
“apa..??!”
“Will u marry me..??”

__________________________________________
Kotabumi, 2-28 ApriL 2012
Lavenska D’Angel

KISAH CINTA ABU-ABU


Cerpen Alif Fanny Wulandari

Di sisi dunia, roman-roman remaja mulai tumbuh. Gaya kekanak-kanakan yang dulu menyebalkan, kini berubah drastis bagai disulap pensil skalakabumbum. Dari yang dulu imut-imut kayak marmut, sekarang jadi amit-amit kayak moyangnya marmut. Dari yang dulu masih ngompol, sekarang malah makin beser. Tapi mungkin nggak dengan cewek yang satu ini. Cewek yang emang imut-imut tapi nggak kayak marmut, malah lebih mirip sama Pretty shinta artis Bollywood itu lho. Hidungnya yang mancung hampir kayak hidung pinokio. Matanya yang bulat coklat, bibirnya nan sexy, rambutnya yang tergerai hitam lurus, pokoknya jauh banget sama rambut sapu ijuk. Dan pokoknya, cewek yang satu ini benar-benar prefect n sedikit agak tomboy sih. Walau begitu dia jadi idola populer di sekolah lamanya, dan akan menjadi calon idola lagi di sekolah lanjutnya. Maklum aja hari ini dia baru mengenakan seragam khas abu-abu Sekolah Menengah Atas, yang dua hari sebelumnya masih mengenakan seragam biru-putihnya.
“Cinta, udah belum dandannya ? nanti kamu terlambat.” Cinta bukan panggilan lebay dari seorang ibu pada anaknya lho, tapi emang itu adalah nama dari seorang cewek yang cantik nan imut. Mungkin sebelumnya udah sempet di bahas sedikit tentang cewek yang satu ini. Suara sang ratu rumah udah terdengar tak sabar menunggu sang putri Cinta keluar dari kamarnya. Maklum saja, cewek yang satu ini nggak cukup beberapa menit bersolek di depan cermin kesayangannya. Mungkin bisa memakan banyak waktu, hingga banyak waktu yang terbuang sia-sia. Tomboy sih boleh aja, tapi ini namanya melebihi dosis seorang wanita normal untuk bersolek. Hahhahaah :D ketawa dikit lah.
“Rebes, Mom.” Satu jawaban singkat yang dilontarkan Cinta, untuk waktu yang berjam-jam terbuang.
“Udah donk Cin, eke bete nih chin. Liat loe gak selesai-selesai berhadapan sama eke.” Nada manja ala bancis akhirnya terdengar juga dari si cermin kesayangannya itu.
“Oke cermin, gue mau berangkat nih.” Cinta membalikkan badan dan mengambil tas Diesel selempangnya. Lalu berlalu pergi. I’m coming abu-abu . . . . . . . . . 

***
Di sisi dunia lain pun terlihat sesosok makhluk tampan bin handsome, penghuni salah satu istana di sebuah perumahan Menteng. Dengan gaya cool and cute, si cowok yang bernama Revan itu menghampiri sang Raja yang sudah siap setengah jam lalu di depan halaman istana dengan bersandar di mobil sedan berplat B yang sudah hampir jamuran.
“Oke, Dad. I’m ready.” Si Revan pun langsung menghampiri ayahnya dengan gagah tak berani, tapi tetap dengan senyuman yang cute itu. Mobil mereka pun melesat secepat anak panah yang lepas dari busurnya, melewati celah yang kosong mobi-mobil yang lain.

***
Sebuah Sekolah Menengah Atas di Jakarta yang cukup megah, telah menanti siswa-siswi yang baru saja berganti abu-abu itu datang. Bel masuk pun dua menit lagi berdering. Di setiap penjuru kelas yang cukup luas, anak-anak sudah tak sabar menanti untuk memulai jam pelajaran pertama dimulai. Dengan semua yang semua serba baru.
Karena saking rajinnya, ada yang sudah menyiapkan alat tulis di atas meja, seperti tempat pensil bergambar Doraemon; pensil yang bergambar Berbie; pulpen yang diujung tombaknya ada kepala Micky; dan nggak ketinggalan perlengkapan makan berbentuk kepala robot serta tempat air minum berwajah Smile warna biru.
“Eh Sis, elo mau sekolah apa mau camping ? kayak anak TK aja loe !” teriak salah satu siswa yang penampilannya cukup keren. Siska hanya diam. “Cin, elo di mana sih?” desis Siska pelan. Maklum aja, cewek yang satu ini adalah sahabat Cinta waktu SMP dulu. Walau dia agak cupu, tapi Cinta senang punya teman seperti dia, teman yang terlalu baik untuk tidak diajak berteman. Teman-teman yang lain masih saja menertawakan keluguan Siska. Dan tak lama kemudian, bel pun berbunyi. Tiba-tiba di ambang pintu ada dua sosok manusia yang muncul tiba-tiba. “Morning semua, sorry gue telat.” Suara yang hampir berbarengan itu mengalihkan semua mata yang sekitar beberapa menit yang lalu sedang menjuru pada sosok yang agak kuper n cupu. Sekejap saja semua mata tertuju pada dua pasang mata di ujung pintu kelas. Seluruh pasang mata yang tadinya menertawakan Siska, sekarang malah berganti haluan.
“Cin, sini !” seru Siska sambil mengayunkan tangannya untuk memberi aba-aba pada Cinta untuk segera duduk di sebelah bangkunya yang kosong. Cinta pun mengiyakan.
“Oya Cin, kok loe tadi bisa barengan telat gitu sama tuh cowok ?” Siska membuka obrolannya, dan ditatapnya Cinta dari arah samping.
“Nggak tahu, takdir kali.” Cinta tak terlalu menanggapi, dia malah asyik sibuk sendiri.

***
Hari pertama sekolah dilalui dengan baik. Keesokannya akan ada banyak hal yang akan lebih menanantang.
Di kantin . . .
“Eh Cin ! loe nggak usah kecentilan and kegeeran yach ! mentang-mentang kemarin loe ke ‘gap’ bareng sama Revan.” Pantas aja tuh cowok jadi langsung tenar ke kakak kelas, secara dia ternyata saingan populer juga kaya Cinta si cewek yang agak tomboy yang satu ini. Baru ke ‘gap’ kayak kemarin aja udah seheboh itu. Mulut cewek di depan Cinta udah monyong-monyong lima centi itu, cuma dicuekin sama Cinta. Siska yang melihat adegan itu Cuma meringis katakutan di belakang tubuh mungil Cinta. Sedangkan Cinta tak gentar sedikitpun.
“Eh ! loe bisu apa tuli sih ?” cewek itu makin garang n panas. Pantes aja omongannya cuma dikacang rebusin abis-abisan sama Cinta. “kita hajar aja nih cewek !” samber teman Stela, nggak kalah garang dari Stela.

DMCA Protection on: http://www.lokerseni.web.id/2012/05/cerpen-cinta-remaja-kisah-cinta-abu-abu.html#ixzz1wWkMDW1H

“Eh cewek cupu cengeng ! ngapain loe liat-liat ?!” bentakan Stela membuat Siska mati kutu. Tapi nggak buat Cinta, dia masih santai dengan es apel and siomay di hadapannya.
“Oke guys, lebih baik kita seret aja nih cewek cupu. Buat kita jadiin tumbal. Kita bawa ke kamar mandi dan kita mandiin aja sekalian. Hahahahahaha.” Cewek and geng-nya itu menyeret Siska dengan sadis sambil tertawa puas. Anak-anak yang berada tak jauh dari lokasi perkara itu Cuma bisa diam. Tak ada yang berani sedikitpun sama geng cewek-cewek yang terkenal dengan tajir, top, and garang itu. Jadi penonton setia adalah cap buat anak-anak hanya cuma bisa liat adegan-adegan yang diperankan geng itu, tanpa harus jadi pemeran figura yang Cuma numpang lewat atau sekedarnya nampang wajah yang separuh terlihat. Sungguh tragis.
Lima langkah cewek and geng-nya itu melewati tubuh mungil Cinta, akhirnya Cinta pun angkat bicara. “Eh loe !” langkah geng itu pun seraya berhenti, setelah baru saja ada panggilan alam yang menggoda mereka. “Hmmm, kita gitu maksud loe ?” tanya sok gak nyadar, diwakilin salah satu personil geng itu. “Ya loe loe pada ! siapa lagi !” gaya khas betawinya pun keluar juga.
“Berani juga nyali loe yach !” Stela kebawa emosi.
“Loe fikir gue takut sama makhluk macam kalian ?” semakin dekat langkah Cinta yang menghampiri geng itu.
“Sebelum loe mandiin cewek ini,” Cinta menunjuk Siska yang makin gemetar nggak keruan, dan “BYURRR . . . !!”
“Gue mandiin loe duluan ! ngerti loe !” es apel Cinta mendarat tepat ke wajah Stela. Cinta langsung menarik Siska ke sampingnya. Stela and geng-nya melongo nggak nyangka. Terbengong-bengong ala kucing yang mau pingsan karna diguyur air. Bedanya ini nggak kabur pas disiram air. Hehe :D
“Satu hal yang loe harus tahu,” Cinta diam sesaat dengan wajah yang baru aja menampakkan sinis. “kalo loe bermasalah sama gue, loe hadapin gue satu lawan satu ! dan nggak usah loe bawa-bawa temen gue. Ngerti loe !” bentakkan ganas Cinta nggak bisa ditolak Stela. Cinta and Siska pun langsung meninggalkan kantin tanpa memperdulikan Stela yang masih melongo heran. Semua anak yang masih berada di TKP masih terbengong-bengong melihat adegan live film gratis tadi. Mereka cukup terhibur, ada pula yang tersenyum merendahkan Stela and geng-nya. Tapi tidak untuk Stela and geng-nya.

***
Sepatu kets olahraga dengan warna biru sudah terpasang rapih. Kaus olahraga pun tak kalah matching dengan sepatunya. Dandanannya kali ini pun lebih sporty. Yang kemarin rambutnya digerai, sekarang dikuncir 1 belakang dengan model jini oh jini beraksesoriskan pita Micky biru. Di tangan kanannya terbelit gelang Power Balance. Dan Cinta pun siap berangkat dengan mobil BMW-nya.

***
Tas Alto hitam pun sudah digembloknya. Cowok yang satu ini pun nggak mau kalah keren dari hari kemarin. Rambutnya yang sengaja dimodel mohak cepak pun bikin wajahnya semakin keren n cool. Motor pun melesat cepat dan siap menjilati aspal jalanan yang cukup ramai pagi ini.

***
‘Ciiiiiiiiiittttttt . . . . . . !!’
Decitan rem dua kendaraan pun saling berlomba menerobos masuk tempat parkir kendaraan. Dua sosok manusia pun muncul. Di sisi kanan kendaraannya ada si cewek cantik yaitu Cinta. Dan di sisi kiri kendaraannya ada cowok yang super duper keren n ganteng yaitu Revan. Tak disangka dan tak diduga,semua orang yang berada tak jauh dari tempat parkir itu menatap dua sosok yang baru muncul itu. Semua mata tertuju pada kedua-nya, dari pinggir lapangan, tepi kelas atau pun seluruh penjuru sekolah. Cinta dan Revan berjalan beriringan. Tak sebersit sedikitpun untuk kedua-nya melirik apalagi melihat satu sama lain .

***
Di tengah lapangan basket pun sudah ada dua kubu pemain yang siap bertanding hari ini. Dikubu penantang ada Cinta, Jessica, Amel, Dinda dan Meta yag mewakili kelas satu. Dan di kubu lawan ada Stela, Angel, Reva, Cindy dan Vira yang mewakili kelas dua. Kapten dari kedua kubu pun saling berhadapan.
“Loe hati-hati aja, bentar lagi loe akan kalah.” Stela dengan sinisnya menatap Cinta, sambil memberi jempol terbalik. Cinta tampak tenang.
“Siapa takut ! lebih baik loe pulang aja deh sekarang ! daripada loe akan kalah telak dan malu.” Cinta tampak tenang dan berjalan membalikkan badan menuju tim-nya. Setelah lima menit untuk mengatur strategi, kedua kapten dari kedua kubu pun berdiri di tengah lapangan. Wasit pun meniup peluit tanda pertandingan dimulai. Yang pertama mendrible bola adalah tim Stela, saat akan melempar bola ke arah ring lawan, bola pun terpotong oleh kelincahan Cinta. Cinta pun mendrible bola dengan mulusnya dan masuk ! tim Cinta sudah unggul di score pertamanya. Tim Stela pun nggak mau kalah telak sama tim Cinta. Dengan santai Cinta pun kembali mendrible bola dengan lincahnya.menit pun berlalu berganti jam. Persaingan kali ini sangat ketat, kedudukan sekarang 4:2. Tim Cinta masih unggul 2 point. Di sela waktu yang tersisa, kedua kubu semakin ketat mengejar score tertinggi. Dan ini lah puncak ketegangan para pemain dan penonton, kedua kubu sama-sama kuat. Wasit pun akan meniupkan peluit tanda pertandingan selesai. Wasit menghitung mundur, 5, 4, 3, dan dihitungan ke-2, MASUK !! Cinta berhasil memasukkan bola ke arah ring. Dan akhirnya, ‘prrrriiiiiiitttttt . . . . . . . priiiiiittttt . . . . !!’ peluit tepat ditiup dihitungan ke-1. Dan akhirnya tim Cinta lah yang memenangkan pertandingan. Mereka berpelukan kayak Teletubies. Dan tim Stela pun pergi meninggalkan lapangan dengan wajah ketekuk and kusutnya minta ampun, kayak baju yang belum disetrika.

***
Kantin mendadak ramai, padahal bel istirahat belum berbunyi. Siswa-siswi menyerbu semua kedai makanan yang ada di kantin. Diborong dah tuh. Banyak siswa –siswi kelas satu sampai dengan kelas tiga nongkrong-nongkrong di tepi lapangan. Tiba-tiba ada panggilan alam yang memperingati Cinta untuk menjauh dari tempatnya berjalan. Cinta pun mencari asal suara itu dan apa yang dilihat Cinta ? bola basket melayang tepat ke arahnya. Dengan sigap Cinta menangkap bola itu dengan gaya khas anak basket yang baru aja menerima umpan dari rekannya dan dimasukkannya bola itu ke arah ring dan MASUK !! tepukan tangan yang cukup meriah itu meramaikan pagi yang menjelang siang ini. Cinta pun melanjutkan langkahnya menuju kantin. Tiba-tiba ada seseorang yang mengejar Cinta dan menepuk pundaknya.
“Hi !” seru seorang yang tadi menepuk pundaknya. “Nama loe siapa ? tadi lemparan loe boleh juga.” dilanjut dengan perkenalan awal, sambil mengulurkan tangan dan tersenyum manis pada cewek tomboy satu ini.
“Gue Cinta. Nama kakak siapa ?” Cinta pun menyambut tangan yang menjabatnya dengan senyum manis pula.
“Nggak usah panggil kakak, panggil gue Aldo.” Ajegile, masih ada juga ya cowok yang super duper keren kayak gini di sekolah gue. Cinta ngobrol sendiri dalam hati and gak lupa gaya melamunnya.
“Hi Cin, ko malah diem ?” lamunan Cinta langsung pecah, karna keasyikan ngelamunin cowok di depannya.
“Oh, nggak pa-pa kok.” Cinta terpojok dan memerahlah wajah cantiknya. Kayak tomat yang baru aja masak.
“Oya, loe mau ke kantin kan ? bareng yuk !” ajak Aldo sok kenal sok dekat. Makin merah aja tuh wajah tomat Cinta, nggak habis fikir gara-gara dia mau kelempar bola jadi bisa kenal cowok se keren Aldo. Lumayanlah.

***
Perasaan Cinta membludak, kacau dan benar-benar tidak terkontrol. Dilemparnya tas itu ke atas kasur dan dibaringkannya tubuh mungil itu ke dermaganya. Fikiran Cinta melayang, menerawang dan memutar-mutar isi otaknya. Kedua lelaki yang sekarang sedang mencoba mendekatinya, tiba-tiba saja berjalan-jalan di otaknya. Entah itu Revan ataupun Aldo. Nggak tau gimana keduanya jadi saling mendekati Cinta. Untuk Revan, mungkin karna memang dia sekelas dengan Cinta, sedangkan Aldo yang tiba-tiba dikenalnya karna adegan yang nggak terduga. Karna bola basket itu yang membuatnya jadi kenal dengan sesosok cowok yang super duper keren itu. Yang jelas, mereka sedang berlomba untuk mendapatkan hati Cinta. Wajah itu tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam angan Cinta. Wajah itu terlihat lebih tampan dari pandangan aslinya. Cinta pun sendiri bingung apa yang terjadi pada dirinya, ia benar-benar pusing tujuh keliling dunia jalan kaki.

***
“Cin, gue mau ngomong sesuatu sama loe.” Sorot matanya yang tajam menghinggap serius dan cowok itu pun menarik tangan Cinta.
“Apa-apaan sih loe Van !” Cinta membentak sekaligus kaget dengan tingkah dan sikap Revan.
“Gue mau ngomong penting sama loe. Gue minta maaf udah buat loe marah kayak gini. Please, dengaerin gue dulu.” Suara Revan melemah dan kini tatapannya pun melemah. Anak-anak di sekitar lapangan basket berkerumun mendekati Revan dan Cinta. Dan membuat sebuah lingkaran yang di tengahnya ada Revan dan Cinta yang sekarang jadi pusat perhatian.
“Dengerin semua ! gue Revan, sebelumnya gue minta maaf udah ganggu waktu istrahat loe-loe semua. Di sini, dan di tempat ini, gue mau nyatain cinta sama seorang cewek. Emang bisa dibilang norak. Gue sendiri juga nggak nyangka bisa suka sama cewek secepat ini. Tapi gue udah yakin dengan perasaan gue, dan segala resiko ditolak gue udah siap.” Tiba-tiba Revan duduk merendah di hadapan Cinta. Cinta bengong tak bisa berkutik.
“Cin, gue suka sama loe, sejak pertama gue liat loe. Loe mau nggak jadi cewek gue ?” Dor !! tembakan sudah tepat sasaran.
“Gue . . . gue . . .” Cinta terbata-bata.
“Gue tahu Cin, ada cowok lain yang menyukai loe juga. Dan loe juga menyukainya. Dia kan ?” Revan menunjuk Aldo sinis, yang baru saja tiba di TKP.
“Revan !” bentak Cinta seketika.
“Oke, oke. Gue ngerti. Sekarang loe pilih gue atau dia ?” Revan melemah.
“Sebelumnya gue terimakasih sama loe Van. Gue nggak nyangka aja loe berani nembak gue langsung di hadapan teman-teman gue. Oya, buat Aldo, makasih loe dah baik banget sama gue.” Cinta memandang Aldo. Aldo pun tersenyum mendengar ucapan Cinta.
“ dan buat Revan, jujur aja gue rada stres deket sama loe. Yang akhirnya membuat gue bermusuhan sama Stela and geng-nya sampe bikin gue ribut di kantin. Itu karna loe. Dan Cuma gara-gara salah paham gini, temen gue jadi ikut-ikutan apes karna loe. Tapi setelah beberapa hari gue berfikir tentang perasaan gue, gue udah pastiin kalau gue suka . . . . . Aldo.” Jelegar ! petir menyambar hati Revan. Aldo yang sedari tadi melihat adegan itu, tersenyum puas dan merasa menang.
“Oke, gue terima keputusan loe. Makasih.” Revan sangat kacau dan beralalu pergi.
“Tapi gue lebih mencintai loe Van ! lebih-lebih dari perasaan gue ke Aldo.” Cinta berteriak dan menghampiri Revan. Langkah Revan terhenti.
“Apa Cin ?” Revan tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
“Gue lebih mencintai loe Van, gue . . . . . . . gue mau banget jadi pacar loe.” Cinta mengulang ucapannya. Revan pun tersenyum senang. Seluruh anak di lapangan basket itu bertepuk tangan gembira, menyambut jawaban Cinta untuk menerima Revan.
“Makasih Cin, gue seneng dengernya.” “Oke. Nih gue tantang loe main basket satu lawan satu. Siapa yang kalah, harus mentraktir seluruh anak satu sekolahan. Gimana ?” tantang Revan yakin.
“Oke. Siapa takut !” Cinta dipeluk Revan dengan mesra dan anak-anak yang lain pun ikut berpelukan kayak teletubies.
“Yeeaaahhhhh . . . . . . . . . . . . .” seruan berbarengan seluruh siswa. Aldo dan Stela pun pergi meninggalkan lapangan dengan hati yang teramat sakit dan kecewa.

***
“Kat ! Kat ! Ending yang bagus. Saatnya bilang ‘SEM PUR NA’.” Suara Sutradara memecah gembira di tengah-tengah kegembiraan para pemain cerpen ‘KISAH CINTA ABU-ABU’. Semua berpelukan tanda gembira.

THE AND

PROFIL PENULIS
Salam kenal dan salam hangat untuk para pembaca cerpen.
Nama : Alif Fanny Wulandari
@ facebook : fanny shegadiez violet
@ twitter : fanny_shegavi
@ mail : aliffannysmeansabez@yahoo.co.id / fannyshegadiezviolet@yahoo.co.id

HIU & REMORA


Cerpen Angga Mardian

Tiga jam dari sekarang adalah saat yang paling membahagiakan bagi saya, yang paling saya nantikan. Karena setelah 6 tahun terpisah, kini saya akan menemui saudari kembar saya, Remora. Sejak kami duduk di bangku SMP, kami dipisahkan oleh kedua orang tua kami untuk menghindari timbulnya rasa cinta diantara kami. Maklum, Mora perempuan dan saya laki-laki. Kembar seperti kami ini banyak yang dipisahkan, karena tak sedikit yang akhirnya menikahi pasangan kembarnya sendiri.

Saya masih ingat saat saya mulai menyukai lawan jenis, Remora-lah yang pertama kali saya sukai. Karena dia cantik dan baik. Juga karena kebersamaan kami setiap hari. Pelan-pelan rasa suka itu berubah jadi rasa yang aneh, rasa yang ingin selalu memiliki. Rasa cinta yang lebih dari cinta kakak kepada adiknya. Saya pun tahu bahwa Mora juga menaruh perasaan yang sama, terlihat dari sorot matanya saat berbicara pada saya.


Semakin lama kami semakin terlarut dalam perasaan kami. Kemesraan diantara kami perlahan tercium orang tua kami, akhirnya kami pun dipisahkan. Saya dikirim jauh ke negeri paman Sam, dan hanya boleh kembali saat Mora akan menikah.

Sedih sekali jika teringat akan mata Remora yang biasanya berbinar dipenuhi air mata. Ingin rasanya saya menangis setiap kali mengingatnya. Sebelum saya pergi, Mora memberikan boneka ikan remora kesayangannya pada saya dan berkata “Hiu dan Remora akan selalu berpasangan. Walau gelombang besar memisahkan mereka, kelak takdir akan menyatukan mereka kembali”.

Selama di negeri orang, saya selalu berdo’a agar Mora diberi kekuatan dan ketabahan hati. Saya juga menjaga kesehatan saya agar Mora juga turut sehat. Namun terkadang saya mendadak sakit tanpa sebab, tanda bahwa Remora sedang sakit. Saat itulah kesempatan saya untuk bisa bicara dengan Mora.
“Pesawat akan segera mendarat, harap memakai sabuk pengaman dan penutup telinga. The plane will be landing soon, please fasten your seatbelt and use the ear cover”, ucap pramugari. Jantung saya berdebar-debar. Bukan karena pesawat yang akan mendarat, namun karena sebentar lagi akan bertemu dengan Remora. Akhirnya, setelah sekian lamanya terpisah, kami bisa bertemu lagi. Tiga jam telah terlewati, inilah saatnya.

Pesawat akhirnya mendarat, para penumpang segera turun setelah diberi tanda oleh pramugari. Senangnya bisa pulang ke Tanah Air, terlebih karena Mora. Saya berjalan menuju ruang tunggu kedatangan luar negeri.
“Hiu, Anakku”, terdengar suara ayah dari jauh. Disusul dengan Ibu, Remora, dan seorang lelaki. Setelah melepas rindu pada Ayah dan Ibu, kini saatnya melepas rindu pada Remora. Entah kenapa saya tak berani menciumnya, hanya memeluknya erat dan mengucapkan selamat atas pertunangannya. Mora tersenyum dan terlihat bahagia, tapi saya merasa bahwa hatinya menyimpan rasa sedih. “Relakanlah, maka kita takkan terpisah lagi. Karena kita tetap bersaudara”, bisikku pada Mora.

Setelah saling melepas rindu, kami sekeluarga pun pulang. Bersiap untuk pernikahan Mora yang akan diselenggarakan dalam beberapa hari ke depan.
“Semoga kalian berdua selalu bahagia dan tak terpisahkan, bagai ikan hiu dan remora”, bisikku dalam hati.

PROFIL PENULIS
Hangga Mardian (Nama lengkap)
Tulungagung, Maret 1994
FB : hm_i@ymail.com
Takkan Berhenti Menulis Imajinasi